Sudah lama aku tak meeja kata demi kata,
Merangkai aksara tuk mengisi lembaran risau yang dulunya putih kini telah kuning meronta,
Berkali-kali membujuk hati untuk menggerakkan pena,
Tuk habiskan ribuan tetes tinta dibalik senja,
Lalu kucoba menghidupkan roma-roma asmara,
Tetapi kemudian aku terhenti, bingung semua memulai darimana,
Sebab ketika malam tiba, semua perihalmu tak lagi terbaca,
Bukan karena kagumku yang mulai sirna,
Tapi hatiku yang mulai kehilangan rasa,
Hingga akhirnya ku berlalu sambil mengubar segala rasa,
Menyadari satu yang nyata,
Bahwa kau bukan lagi menjadi alasanku untuk berkarya.
Tink tink tink
I just love writing, and also music.
My Blog List
Thursday, 9 May 2019
Kopi
Hai pedagang kopi
Aku punya uang dua ribu lima ratus rupiah
Tanpa gula kuminta buatkan
Selayak kopi yang seutuhnya pahit
Kau seduhkan kenangan
Kau seduhkan juang
Kau beri candu singgah di lidahku
Dan selalu menjadi kopi idamanku
Bersama gerimis
Semerbak wanginya menyadarkan lamunanku
Kucecap rasanya yang hangat
Setiap tegukan selalu membuatku teringat
Aku tersadar
Penantianku tak akan mengucap selamat datang
Aku punya uang dua ribu lima ratus rupiah
Tanpa gula kuminta buatkan
Selayak kopi yang seutuhnya pahit
Kau seduhkan kenangan
Kau seduhkan juang
Kau beri candu singgah di lidahku
Dan selalu menjadi kopi idamanku
Bersama gerimis
Semerbak wanginya menyadarkan lamunanku
Kucecap rasanya yang hangat
Setiap tegukan selalu membuatku teringat
Aku tersadar
Penantianku tak akan mengucap selamat datang
Monday, 23 July 2018
Nocturno
Dia menyapaku...
Dimulai dari kejadian siang itu, aku mengenalnya
Mulai saat itu, benih-benih cinta untuknya tersemai sempurna,
Hingga saat ini,
Benih itu bertumbuh dengan baik,
Kurawat dengan sukacita,
Meski dia kini entah ada dimana,
Aku jatuh cinta...
Aku hanya tidak tahu bagaimana menghentikannya,
Bagaimana memalingkannya,
Karena dia tidak tinggal lama,
Dia berkelana dan tidak menjanjikan apa-apa,
Dan aku tetap menanti...
Satu nama yang membuatku enggan memalingkan hati,
Membuat jeda,
Memberikan kekosongan tersendiri yang aku biarkan tak terisi,
Karena hanya dia, yang menghuni,
Meski hanya pesan-pesan yang diberikan olehnya,
Hanya sederet kalimat tanpa harapan untukku menunggu,
Hanya sederet kalimat yang menyatakan bahwa dirinya masih hidup,
Dan setiap malam...
Selama enam tahun,
Aku menikmati kehidupan nocturno yang kujalani,
Hanya untuk sekedar mendapatkan pesan darinya.
Dimulai dari kejadian siang itu, aku mengenalnya
Mulai saat itu, benih-benih cinta untuknya tersemai sempurna,
Hingga saat ini,
Benih itu bertumbuh dengan baik,
Kurawat dengan sukacita,
Meski dia kini entah ada dimana,
Aku jatuh cinta...
Aku hanya tidak tahu bagaimana menghentikannya,
Bagaimana memalingkannya,
Karena dia tidak tinggal lama,
Dia berkelana dan tidak menjanjikan apa-apa,
Dan aku tetap menanti...
Satu nama yang membuatku enggan memalingkan hati,
Membuat jeda,
Memberikan kekosongan tersendiri yang aku biarkan tak terisi,
Karena hanya dia, yang menghuni,
Meski hanya pesan-pesan yang diberikan olehnya,
Hanya sederet kalimat tanpa harapan untukku menunggu,
Hanya sederet kalimat yang menyatakan bahwa dirinya masih hidup,
Dan setiap malam...
Selama enam tahun,
Aku menikmati kehidupan nocturno yang kujalani,
Hanya untuk sekedar mendapatkan pesan darinya.
Monday, 2 July 2018
Juli dan setelahnya
Aku tertegun menikmati buaian angin di bulan Juli yang menerpa wajahku,
Membawa serta aroma masa lalu,
Lamunanku kini melayang pada sosok pria di masa lalu,
Cinta pertamaku yang tidak pernah menjadi sempurna,
Benar kata orang...
Lebih baik patah hati dibandingkan harus berjuang rasa cinta bertahun-tahun seorang diri,
Disaat semua orang bisa berpindah hati,
Aku justru masih terpaku dengan cinta yang belum dipastikan,
Masih terbayang dalam otakku bagaimana ia tersenyum,
Senyuman yang bisa membuatku melakukan apapun,
Tapi sekarang...
Semua berubah,
Hambar,
Dan bahkan, aku tidak tahu sekarang siapa yang lagi menjauhi siapa,
Setelahnya...
Diriku gelisah,
Aku menyadari itu,
Satu kejadian yang sudah membuatku tak lagi sama,
Ada sesuatu yang bergejolak pelan dalam jiwaku,
Kepada seseorang yang baru,
Sosok baru yang kupuja,
Yang selalu ada disekitarku bagai sinar matahari sore yang menggelimantang,
Sosok yang menyimpan rahasia dibalik tawa,
Yang berkisah tentang cinta dengan fisiknya yang menawan,
Terakhir...
Untuk sosok di masa lalu,
Kutitip salam, untuk cinta pertama, sang pemberi beribu cerita,
Sampaikan rinduku tentang hujan, juga rindu dan rasa yang akan aku hapus dengan perlahan untuk dia,
Karena aku tak akan lagi jatuh padanya.
Membawa serta aroma masa lalu,
Lamunanku kini melayang pada sosok pria di masa lalu,
Cinta pertamaku yang tidak pernah menjadi sempurna,
Benar kata orang...
Lebih baik patah hati dibandingkan harus berjuang rasa cinta bertahun-tahun seorang diri,
Disaat semua orang bisa berpindah hati,
Aku justru masih terpaku dengan cinta yang belum dipastikan,
Masih terbayang dalam otakku bagaimana ia tersenyum,
Senyuman yang bisa membuatku melakukan apapun,
Tapi sekarang...
Semua berubah,
Hambar,
Dan bahkan, aku tidak tahu sekarang siapa yang lagi menjauhi siapa,
Setelahnya...
Diriku gelisah,
Aku menyadari itu,
Satu kejadian yang sudah membuatku tak lagi sama,
Ada sesuatu yang bergejolak pelan dalam jiwaku,
Kepada seseorang yang baru,
Sosok baru yang kupuja,
Yang selalu ada disekitarku bagai sinar matahari sore yang menggelimantang,
Sosok yang menyimpan rahasia dibalik tawa,
Yang berkisah tentang cinta dengan fisiknya yang menawan,
Terakhir...
Untuk sosok di masa lalu,
Kutitip salam, untuk cinta pertama, sang pemberi beribu cerita,
Sampaikan rinduku tentang hujan, juga rindu dan rasa yang akan aku hapus dengan perlahan untuk dia,
Karena aku tak akan lagi jatuh padanya.
Tuesday, 26 June 2018
Alasan Kepergian?
Kepergian seseorang bukan tanpa alasan,
Mungkin dia pergi karena merasa sudah tidak mempunyai alasan untuk bertahan,
Mungkin dengan kepergian, dia menemukan nilai dirinya yang selama ini terabaikan,
Atau sebenarnya dia tidak benar-benar pergi,
Dia hanya ingin ditemukan,
Bukan oleh siapa, tapi oleh apa
Karena terkadang rumah tempat kembalinya seseorang bukan tentang empat pilar dan deretan genting,
Tapi senyum dan pelukan seseorang,
Dia menunggu dikembalikan...
Ditemukan oleh sesuatu yang membuatnya pulang; rumahnya, hatinya, miliknya,
Entah dengan perasaan, rindu, atau senyuman,
Karena saat kamu benar-benar menyayangi seseorang,
Kamu akan tahu bagaimana cara membuat dia kembali, membuat dia pulang,
Hingga akhirnya kamu menyadari,
Segala sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kamu,
Akan sejauh apa pun hal itu pergi,
Suatu saat nanti akan kembali dan menjadi milikmu,
Tetapi sebaliknya...
Segala sesuatu yang tidak ditetapkan untuk kamu,
Sekuat apa pun kamu mempertahankan,
Seerat apa pun kamu menggenggam,
Pada akhirnya dia tetap akan hilang.
Mungkin dia pergi karena merasa sudah tidak mempunyai alasan untuk bertahan,
Mungkin dengan kepergian, dia menemukan nilai dirinya yang selama ini terabaikan,
Atau sebenarnya dia tidak benar-benar pergi,
Dia hanya ingin ditemukan,
Bukan oleh siapa, tapi oleh apa
Karena terkadang rumah tempat kembalinya seseorang bukan tentang empat pilar dan deretan genting,
Tapi senyum dan pelukan seseorang,
Dia menunggu dikembalikan...
Ditemukan oleh sesuatu yang membuatnya pulang; rumahnya, hatinya, miliknya,
Entah dengan perasaan, rindu, atau senyuman,
Karena saat kamu benar-benar menyayangi seseorang,
Kamu akan tahu bagaimana cara membuat dia kembali, membuat dia pulang,
Hingga akhirnya kamu menyadari,
Segala sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kamu,
Akan sejauh apa pun hal itu pergi,
Suatu saat nanti akan kembali dan menjadi milikmu,
Tetapi sebaliknya...
Segala sesuatu yang tidak ditetapkan untuk kamu,
Sekuat apa pun kamu mempertahankan,
Seerat apa pun kamu menggenggam,
Pada akhirnya dia tetap akan hilang.
Wednesday, 9 May 2018
Sajakku Tentang Tuan
Pada sudut terjauh dalam sepi
Aku berdiri di sini
Menatap cermin tuk sadari diri
Bahwa harga diri telah mati ditelan hari
Hingga kesulitan menemukan layaknya diri ini
Kurangkai aksara menjadi doa
Kukirimkan kepada langit-langit doa
Menunggu wujudnya yang bersedia
Walau pada akhirnya…
Tak kunjung sampai titik temunya
Lalu, kubiarkan Tuan berkelana
Mencari yang bisa menyamainya
Karena aku tak pernah mampu
Menjadi sosok yang selayaknya
Kini… ku coba hilangkan dia
Memalingkan pandangan pada punggung kokohnya
Menepis rasa tertarik yang kian hari kian menganga
Walau bayangnya masih meliuk-liuk setia
Tuesday, 10 April 2018
Lirih Resah
Kupandangi malam yang pekat,
Mencari satu bintang,
Agar memberikan setitik cahaya yang menerangi resah,
Kutahan semua ego,
Kusembunyikan kecewa diwajah,
Kuberikan senyuman sandiwara,
Dan cukup seperti ini...
Agar kau tak menjauh,
Agar aku tak punya harap lebih,
Semuanya kusimpan rapat dalam hati,
Melawan suasana yang datang silih berganti,
Lalu kurangkai dirimu dalam kata,
Agar setiap waktu kau seperti ada.
Mencari satu bintang,
Agar memberikan setitik cahaya yang menerangi resah,
Kutahan semua ego,
Kusembunyikan kecewa diwajah,
Kuberikan senyuman sandiwara,
Dan cukup seperti ini...
Agar kau tak menjauh,
Agar aku tak punya harap lebih,
Semuanya kusimpan rapat dalam hati,
Melawan suasana yang datang silih berganti,
Lalu kurangkai dirimu dalam kata,
Agar setiap waktu kau seperti ada.
Saturday, 17 March 2018
Merenungi Sebuah Penyesalan
Hari beranjak gelap dan senja mulai menghilang
Sejak beberapa jam
lalu…
Aku bergeming
ditempatku
Menikmati kenangan yang
hilir mudik menyambangi pikiran
Ditemani senyap,
Seolah tengah mengulang
kembali semuanya dalam kepala
Mengelupasi satu
persatu kenangan
Dan mencari cari segala
yang salah dan luput diperhatikan
Aku berharap mampu
memperbaiki dan membenahi semuanya dari awal
Untuk penyesalan yang
mengikatku hingga saat ini
Untuk ikhlas yang masih
terasa tipis ku rasakan
Hal Yang Terlupa
Tuan…
Aku bertanya kesana dan
kesini
Kabar dari hatiku
Yang mulai lupa tentang
dirimu
Entahlah…
Bagaimana perasaan ini dikemudian
Aku tidak berani
memikirkannya
Mencoba tuli dan
menutup telinga rapat-rapat
Disaat hati mengatakan
yang sebenarnya
Maka… akan kuceritakan
padamu
Ada sosok yang
membuatku susah tidur beberapa hari ini
Pria dengan sejuta
pesonanya
Pria yang tak menyadari
Bahwa rasa tertarikku
kian hari kian melambung tinggi
Andai ia tidak pernah
ada
Mungkin aku sudah
berlaku gila didepanmu
Dan andai mataku tidak
menangkap siluet punggung kokohnya
Mungkin aku tidak akan
merasa segamang ini
Dan disaat punggung itu
benar-benar raib dari pandanganku
Aku ingin menjerit
menghentikannya
Aku…
Tak pernah dewasa di
usia setua ini
Masih tak mampu
berpikir hanya menggunakan logika
Tanpa mengikut
campurkan perasaan
Walau era millenium
telah mengambil peradaban
Dan yang lebih parah
dari semua sikap kekanak-kanakan ini adalah,
Aku tidak
sungguh-sungguh ingin membuang, dan malah memilih tetap sebagai penyimpan
Dan betapa aku berharap
suatu hari nanti, bisa benar-benar mengajaknya bicara tanpa henti
Friday, 19 January 2018
Mesin Waktu

Tuan...
Jika suatu hari nanti
Perasaanku telah berlalu
Maka ingatkan aku
Bahwa dirimu pernah menjadi cerita
Kini...
Aku mencoba lari
Sejauh yang aku bisa
Mencari kebebasan
Setelah terjerat bertahun-tahun lamanya
Dalam harapan
Dan...
Terimakasih
Untuk banyak hal yang tidak cukup hanya sekadar dihargai dengan kata terimakasih. Sayonara~
The Sea King’s Daughter

Judul : The Sea King’s Daughter
Penulis : Aaron Shepard
Genre : Fiksi
Thn. Terbit : 1997
Rate : 9/10
Oke
kali ini aku akan bercerita agak panjang tentang buku satu ini dan aku memang
sudah lama menyimpan kisah The Sea King’s Daughter. Dari sekian cerita rakyat
dan legenda Rusia, sepertinya cuma ini paling menarik diantara legenda Rusia
lainnya yang pernah aku baca.
.
.
Salah satu legenda Rusia. Judulnya The King Sea’s Daughter.
Dulu
di Novgorod, ada musisi muda bernama Sadko yang bakatnya membuat banyak
pedagang jatuh hati. Setiap kali Sadko diminta memetik gusli-nya di alun-alun, tidak akan ada satu orang pun yang tidak
berdansa. Sebagai bayaran, pemuda itu diizinkan makan hidangan enak-sesuatu
yang mustahil dia dapatkan setiap hari karena dia hanya musisi miskin.
Meski senang tinggal di Novgorod,
Sadko juga kesepian. Suatu hari, dia mampir ke tepi sungai Volkhov dan
memainkan gusli di tempat favoritnya.
Dia lantas mengatakan, ‘Dimatamu, Sungai
Volkhov, tak ada perbedaan di antara rakyat kaya dan miskin. Jika kau seorang
gadis, aku akan menikahimu. Lalu kita bisa tinggal di Novgorod, kota yang aku
cintai.’
Lalu
tebak apa yang terjadi? Jika kalian menebak bahwa sungainya bergejolak, itu
tebakan yang jitu.
Dari sungai tersebut, muncul pria
bermahkota mutiara dan bersurai rumput laut. Katanya, ‘Kau, sang musisi. Aku adalah sang Raja Lautan. Maksud kedatanganku
adalah untuk menyampaikan pesan dari putriku-Putri Volkhov yang terkesan dengan
permainan gusli-mu yang indah. Lagumu
menghibur warga kerajaan.’
Sang Raja lalu mengundang Sadko
bermain di istananya, tapi Sadko tidak tahu cara pergi ke sana. Raja Lautan
yakin dia akan menemukan solusinya, sementara dia menghadiahi pemuda itu dengan
ikam bersisik emas atas permainannya yang memukau. Tanpa menunggu lama, Sadko menjual
hadiah itu dan memakai uangnya untuk berlayar meninggalkan Novgorod. Namun di
tengah perjalanan, laut bergejolak. Awak kapal menduga Raja Lautan
meniginginkan tumbal. Menyadari kejadian itu sebagai tanda, Sadko mengorbankan
diri. Dia terjun ke dalam laut.
Lalu, Sadko berhasil menemukan
kerajaan itu dan memainkan gusli di
sana.
Setelah Sadko memainkan gusli, Sang Raja makin terkesan dan dia
tidak mau pemuda itu kembali ke daratan. Jadi, dia menikahkan Sadko dengan
Putri Volkhov. Di sisi lain Sadko sangat mencintai Novgorod. Setiap kali dia
ingin menyentuh sang putri, peringatan Sang Ratu akan menghalangi. Mengingatkan Sadko, kalau satu ciuman saja akan menutup jalannya pulang ke daratan. Sampai
kemudian, Putri Volkhov bertanya, ‘Mengapa
kau belum menyentuhku, sayang?’ Sadko pun menjawab, ‘Karena ini adalah aturan yang berlaku di kotaku. Kami tidak memeluk
atau mencium pasangan di malam pertama.’ Sang Putri, kecewa, membalas, ‘Dan sepertinya, kau tak akan pernah
mendapatkan kesempatan itu.’
Keesokan paginya, Sadko mendapati
dirinya berada di tepi Sungai Volkhov alih-alih disamping sang putri. Begitu
melihat dinding kota Novgorod, sang musisi bangkit sambil menyeka air mata. Air
mata yang mungkin saja menggambarkan kebahagiaan karena akhirnya pulang, atau
mungkin kesedihan karena berpisah dengan Putri Volkhov. Atau mungkin dua-duanya.
Kisahnya belum selesai.
Kehidupan Sadko di Novgorod tidak
banyak berubah. Dia tetap memetik gusli;
menarik para pedagang untuk berdansa. Sampai kemudian, sang musisi menikahi
gadis muda di kota tersebut. Mereka membina rumah tangga; membesarkan
anak-anak. Sesekali Sadko menyaksikan sang buah hati menari saat lagunya
mengalun.
Namun, Sadko masih menyempatkan diri
berkunjung ke Sungai Volkhov. Mengirim penghiburan pada sungai lewat lantunan
musiknya. Kadang, ada sesuatu menyembul dari dalam air-sesuatu yang mungkin
hanya pantulan dari purnama.
Atau mungkin sosok sang putri yang
ingin melepas rindu pada sang musisi walau dalam satu lagu saja.
.
.
Yes,
aku mewek baca ini. Cerita legenda yang bikin aku lebay selama satu minggu. Gak
bisa move on dan aku sudah lama sekali ingin menyampaikan cerita yang sudah
tersimpan lama ini kepada kalian yang mungkin saja mampir ke blog ini. Oh ya
kalau kalian gak tau Gusli itu apa, silahkan search di mbah google muehehe :D
Oke
cukup sekian dan semoga terhibur…
Sunday, 7 January 2018
Di balik kebisuan
Malam ini...
Terlihat gadis termenung disana.
Di tepi jendela dengan mendung di wajahnya.
Kosong...
Penantian dengan ancang-ancang.
Terhempas begitu saja oleh badai ucapan.
Malaikatnya pergi...
Berlari...
Terbang dengan sayap indahnya.
Menuju titik kebahagian.
Karena cahayanya sudah menunggu.
Meninggalkan ribuan benda tajam.
Menghunuskan kesegala arah yang bisa disakiti.
Tanpa sadar, bahwa dia sudah mati rasa.
Tak bisa merasakan apa-apa.
Karena setiap kali sakit selalu terasa.
Hingga semuanya menjadi terbiasa.
Dan hari ini...
Untuk malam ini.
Di balik kebisuannya.
Dia menjatuhkan tetesan lelah yang selama ini tersimpan dalam penantian.
Subscribe to:
Posts (Atom)
