My Blog List

Thursday, 9 May 2019

Pudar

Sudah lama aku tak meeja kata demi kata,

Merangkai aksara tuk mengisi lembaran risau yang dulunya putih kini telah kuning meronta,

Berkali-kali membujuk hati untuk menggerakkan pena,

Tuk habiskan ribuan tetes tinta dibalik senja,

Lalu kucoba menghidupkan roma-roma asmara,

Tetapi kemudian aku terhenti, bingung semua memulai darimana,

Sebab ketika malam tiba, semua perihalmu tak lagi terbaca,

Bukan karena kagumku yang mulai sirna,

Tapi hatiku yang mulai kehilangan rasa,

Hingga akhirnya ku berlalu sambil mengubar segala rasa,

Menyadari satu yang nyata,

Bahwa kau bukan lagi menjadi alasanku untuk berkarya.

Kopi

Hai pedagang kopi
Aku punya uang dua ribu lima ratus rupiah
Tanpa gula kuminta buatkan
Selayak kopi yang seutuhnya pahit

Kau seduhkan kenangan
Kau seduhkan juang
Kau beri candu singgah di lidahku
Dan selalu menjadi kopi idamanku

Bersama gerimis
Semerbak wanginya menyadarkan lamunanku
Kucecap rasanya yang hangat
Setiap tegukan selalu membuatku teringat

Aku tersadar
Penantianku tak akan mengucap selamat datang

Monday, 23 July 2018

Nocturno

Dia menyapaku...
Dimulai dari kejadian siang itu, aku mengenalnya
Mulai saat itu, benih-benih cinta untuknya tersemai sempurna,
Hingga saat ini,
Benih itu bertumbuh dengan baik,
Kurawat dengan sukacita,
Meski dia kini entah ada dimana,

Aku jatuh cinta...
Aku hanya tidak tahu bagaimana menghentikannya,
Bagaimana memalingkannya,
Karena dia tidak tinggal lama,
Dia berkelana dan tidak menjanjikan apa-apa,

Dan aku tetap menanti...
Satu nama yang membuatku enggan memalingkan hati,
Membuat jeda,
Memberikan kekosongan tersendiri yang aku biarkan tak terisi,
Karena hanya dia, yang menghuni,
Meski hanya pesan-pesan yang diberikan olehnya,
Hanya sederet kalimat tanpa harapan untukku menunggu,
Hanya sederet kalimat yang menyatakan bahwa dirinya masih hidup,

Dan setiap malam...
Selama enam tahun,
Aku menikmati kehidupan nocturno yang kujalani,
Hanya untuk sekedar mendapatkan pesan darinya.

Monday, 2 July 2018

Juli dan setelahnya

Aku tertegun menikmati buaian angin di bulan Juli yang menerpa wajahku,
Membawa serta aroma masa lalu,
Lamunanku kini melayang pada sosok pria di masa lalu,
Cinta pertamaku yang tidak pernah menjadi sempurna,

Benar kata orang...
Lebih baik patah hati dibandingkan harus berjuang rasa cinta bertahun-tahun seorang diri,
Disaat semua orang bisa berpindah hati,
Aku justru masih terpaku dengan cinta yang belum dipastikan,
Masih terbayang dalam otakku bagaimana ia tersenyum,
Senyuman yang bisa membuatku melakukan apapun,

Tapi sekarang...
Semua berubah,
Hambar,
Dan bahkan, aku tidak tahu sekarang siapa yang lagi menjauhi siapa,

Setelahnya...
Diriku gelisah,
Aku menyadari itu,
Satu kejadian yang sudah membuatku tak lagi sama,
Ada sesuatu yang bergejolak pelan dalam jiwaku,
Kepada seseorang yang baru,
Sosok baru yang kupuja,
Yang selalu ada disekitarku bagai sinar matahari sore yang menggelimantang,
Sosok yang menyimpan rahasia dibalik tawa,
Yang berkisah tentang cinta dengan fisiknya yang menawan,

Terakhir...
Untuk sosok di masa lalu,
Kutitip salam, untuk cinta pertama, sang pemberi beribu cerita,
Sampaikan rinduku tentang hujan, juga rindu dan rasa yang akan aku hapus dengan perlahan untuk dia,
Karena aku tak akan lagi jatuh padanya.

Tuesday, 26 June 2018

Alasan Kepergian?

Kepergian seseorang bukan tanpa alasan,
Mungkin dia pergi karena merasa sudah tidak mempunyai alasan untuk bertahan,
Mungkin dengan kepergian, dia menemukan nilai dirinya yang selama ini terabaikan,
Atau sebenarnya dia tidak benar-benar pergi,
Dia hanya ingin ditemukan,
Bukan oleh siapa, tapi oleh apa
Karena terkadang rumah tempat kembalinya seseorang bukan tentang empat pilar dan deretan genting,
Tapi senyum dan pelukan seseorang,

Dia menunggu dikembalikan...
Ditemukan oleh sesuatu yang membuatnya pulang; rumahnya, hatinya, miliknya,
Entah dengan perasaan, rindu, atau senyuman,
Karena saat kamu benar-benar menyayangi seseorang,
Kamu akan tahu bagaimana cara membuat dia kembali, membuat dia pulang,

Hingga akhirnya kamu menyadari,
Segala sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kamu,
Akan sejauh apa pun hal itu pergi,
Suatu saat nanti akan kembali dan menjadi milikmu,

Tetapi sebaliknya...
Segala sesuatu yang tidak ditetapkan untuk kamu,
Sekuat apa pun kamu mempertahankan,
Seerat apa pun kamu menggenggam,
Pada akhirnya dia tetap akan hilang.

Wednesday, 9 May 2018

Sajakku Tentang Tuan

Pada sudut terjauh dalam sepi

Aku berdiri di sini

Menatap cermin tuk sadari diri

Bahwa harga diri telah mati ditelan hari

Hingga kesulitan menemukan layaknya diri ini

 

Kurangkai aksara menjadi doa

Kukirimkan kepada langit-langit doa

Menunggu wujudnya yang bersedia

Walau pada akhirnya…

Tak kunjung sampai titik temunya                    

 

Lalu, kubiarkan Tuan berkelana

Mencari yang bisa menyamainya

Karena aku tak pernah mampu

Menjadi sosok yang selayaknya

 

Kini… ku coba hilangkan dia

Memalingkan pandangan pada punggung kokohnya

Menepis rasa tertarik yang kian hari kian menganga

Walau bayangnya masih meliuk-liuk setia

Tuesday, 10 April 2018

Lirih Resah

Kupandangi malam yang pekat,
Mencari satu bintang,
Agar memberikan setitik cahaya yang menerangi resah,

Kutahan semua ego,
Kusembunyikan kecewa diwajah,
Kuberikan senyuman sandiwara,

Dan cukup seperti ini...
Agar kau tak menjauh,
Agar aku tak punya harap lebih,

Semuanya kusimpan rapat dalam hati,
Melawan suasana yang datang silih berganti,
Lalu kurangkai dirimu dalam kata,
Agar setiap waktu kau seperti ada.

Saturday, 17 March 2018

Merenungi Sebuah Penyesalan


Hari beranjak gelap dan senja mulai menghilang
 
Sejak beberapa jam lalu…

Aku bergeming ditempatku

Menikmati kenangan yang hilir mudik menyambangi pikiran

Ditemani senyap,

Seolah tengah mengulang kembali semuanya dalam kepala

Mengelupasi satu persatu kenangan

Dan mencari cari segala yang salah dan luput diperhatikan

Aku berharap mampu memperbaiki dan membenahi semuanya dari awal

Untuk penyesalan yang mengikatku hingga saat ini

Untuk ikhlas yang masih terasa tipis ku rasakan

Hal Yang Terlupa


Tuan…
 
Aku bertanya kesana dan kesini

Kabar dari hatiku

Yang mulai lupa tentang dirimu

Entahlah…

Bagaimana perasaan ini dikemudian

Aku tidak berani memikirkannya

Mencoba tuli dan menutup telinga rapat-rapat

Disaat hati mengatakan yang sebenarnya

Maka… akan kuceritakan padamu

Ada sosok yang membuatku susah tidur beberapa hari ini

Pria dengan sejuta pesonanya

Pria yang tak menyadari

Bahwa rasa tertarikku kian hari kian melambung tinggi

Andai ia tidak pernah ada

Mungkin aku sudah berlaku gila didepanmu

Dan andai mataku tidak menangkap siluet punggung kokohnya

Mungkin aku tidak akan merasa segamang ini

Dan disaat punggung itu benar-benar raib dari pandanganku

Aku ingin menjerit menghentikannya

Aku…

Tak pernah dewasa di usia setua ini

Masih tak mampu berpikir hanya menggunakan logika

Tanpa mengikut campurkan perasaan

Walau era millenium telah mengambil peradaban

Dan yang lebih parah dari semua sikap kekanak-kanakan ini adalah,

Aku tidak sungguh-sungguh ingin membuang, dan malah memilih tetap sebagai penyimpan

Dan betapa aku berharap suatu hari nanti, bisa benar-benar mengajaknya bicara tanpa henti

Friday, 19 January 2018

Mesin Waktu


Hasil gambar untuk time machine tumblr
Tuan...

Jika suatu hari nanti

Perasaanku telah berlalu

Maka ingatkan aku

Bahwa dirimu pernah menjadi cerita

Kini...

Aku mencoba lari

Sejauh yang aku bisa

Mencari kebebasan

Setelah terjerat bertahun-tahun lamanya

Dalam harapan

Dan...

Terimakasih

Untuk banyak hal yang tidak cukup hanya sekadar dihargai dengan kata terimakasih. Sayonara~

The Sea King’s Daughter



Gambar terkait


Judul             : The Sea King’s Daughter

Penulis         : Aaron Shepard

Genre            : Fiksi

Thn. Terbit : 1997

Rate               : 9/10


Oke kali ini aku akan bercerita agak panjang tentang buku satu ini dan aku memang sudah lama menyimpan kisah The Sea King’s Daughter. Dari sekian cerita rakyat dan legenda Rusia, sepertinya cuma ini paling menarik diantara legenda Rusia lainnya yang pernah aku baca.
.
.
Salah satu legenda Rusia. Judulnya The King Sea’s Daughter.
Dulu di Novgorod, ada musisi muda bernama Sadko yang bakatnya membuat banyak pedagang jatuh hati. Setiap kali Sadko diminta memetik gusli-nya di alun-alun, tidak akan ada satu orang pun yang tidak berdansa. Sebagai bayaran, pemuda itu diizinkan makan hidangan enak-sesuatu yang mustahil dia dapatkan setiap hari karena dia hanya musisi miskin.

            Meski senang tinggal di Novgorod, Sadko juga kesepian. Suatu hari, dia mampir ke tepi sungai Volkhov dan memainkan gusli di tempat favoritnya. Dia lantas mengatakan, ‘Dimatamu, Sungai Volkhov, tak ada perbedaan di antara rakyat kaya dan miskin. Jika kau seorang gadis, aku akan menikahimu. Lalu kita bisa tinggal di Novgorod, kota yang aku cintai.’

Lalu tebak apa yang terjadi? Jika kalian menebak bahwa sungainya bergejolak, itu tebakan yang jitu.

            Dari sungai tersebut, muncul pria bermahkota mutiara dan bersurai rumput laut. Katanya, ‘Kau, sang musisi. Aku adalah sang Raja Lautan. Maksud kedatanganku adalah untuk menyampaikan pesan dari putriku-Putri Volkhov yang terkesan dengan permainan gusli-mu yang indah. Lagumu menghibur warga kerajaan.’

            Sang Raja lalu mengundang Sadko bermain di istananya, tapi Sadko tidak tahu cara pergi ke sana. Raja Lautan yakin dia akan menemukan solusinya, sementara dia menghadiahi pemuda itu dengan ikam bersisik emas atas permainannya yang memukau. Tanpa menunggu lama, Sadko menjual hadiah itu dan memakai uangnya untuk berlayar meninggalkan Novgorod. Namun di tengah perjalanan, laut bergejolak. Awak kapal menduga Raja Lautan meniginginkan tumbal. Menyadari kejadian itu sebagai tanda, Sadko mengorbankan diri. Dia terjun ke dalam laut.

            Lalu, Sadko berhasil menemukan kerajaan itu dan memainkan gusli di sana.

            Setelah Sadko memainkan gusli, Sang Raja makin terkesan dan dia tidak mau pemuda itu kembali ke daratan. Jadi, dia menikahkan Sadko dengan Putri Volkhov. Di sisi lain Sadko sangat mencintai Novgorod. Setiap kali dia ingin menyentuh sang putri, peringatan Sang Ratu akan menghalangi. Mengingatkan Sadko, kalau satu ciuman saja akan menutup jalannya pulang ke daratan. Sampai kemudian, Putri Volkhov bertanya, ‘Mengapa kau belum menyentuhku, sayang?’ Sadko pun menjawab, ‘Karena ini adalah aturan yang berlaku di kotaku. Kami tidak memeluk atau mencium pasangan di malam pertama.’ Sang Putri, kecewa, membalas, ‘Dan sepertinya, kau tak akan pernah mendapatkan kesempatan itu.’

            Keesokan paginya, Sadko mendapati dirinya berada di tepi Sungai Volkhov alih-alih disamping sang putri. Begitu melihat dinding kota Novgorod, sang musisi bangkit sambil menyeka air mata. Air mata yang mungkin saja menggambarkan kebahagiaan karena akhirnya pulang, atau mungkin kesedihan karena berpisah dengan Putri Volkhov. Atau mungkin dua-duanya.

            Kisahnya belum selesai.

            Kehidupan Sadko di Novgorod tidak banyak berubah. Dia tetap memetik gusli; menarik para pedagang untuk berdansa. Sampai kemudian, sang musisi menikahi gadis muda di kota tersebut. Mereka membina rumah tangga; membesarkan anak-anak. Sesekali Sadko menyaksikan sang buah hati menari saat lagunya mengalun.

            Namun, Sadko masih menyempatkan diri berkunjung ke Sungai Volkhov. Mengirim penghiburan pada sungai lewat lantunan musiknya. Kadang, ada sesuatu menyembul dari dalam air-sesuatu yang mungkin hanya pantulan dari purnama.

            Atau mungkin sosok sang putri yang ingin melepas rindu pada sang musisi walau dalam satu lagu saja.
.
.
Yes, aku mewek baca ini. Cerita legenda yang bikin aku lebay selama satu minggu. Gak bisa move on dan aku sudah lama sekali ingin menyampaikan cerita yang sudah tersimpan lama ini kepada kalian yang mungkin saja mampir ke blog ini. Oh ya kalau kalian gak tau Gusli itu apa, silahkan search di mbah google muehehe :D
Oke cukup sekian dan semoga terhibur…

Sunday, 7 January 2018

Di balik kebisuan





Malam ini...


Terlihat gadis termenung disana.

Di tepi jendela dengan mendung di wajahnya.

Kosong...

Penantian dengan ancang-ancang.

Terhempas begitu saja oleh badai ucapan.

Malaikatnya pergi...

Berlari...

Terbang dengan sayap indahnya.

Menuju titik kebahagian.

Karena cahayanya sudah menunggu.

Meninggalkan ribuan benda tajam.

Menghunuskan kesegala arah yang bisa disakiti.

Tanpa sadar, bahwa dia sudah mati rasa.

Tak bisa merasakan apa-apa.

Karena setiap kali sakit selalu terasa.

Hingga semuanya menjadi terbiasa.

Dan hari ini...

Untuk malam ini.

Di balik kebisuannya.

Dia menjatuhkan tetesan lelah yang selama ini tersimpan dalam penantian.